Posted by : Unknown 7 Jun 2013

Their meetings cannot be described, even with thousand words


Saya sangat mengagumi film-film buatan Makoto Shinkai sebelumnya, seperti 5 Centimeters Per Second, Children Who Chase Lost Voices, dan The Place Promised in Our Early Days. Dan kali ini saya kembali dibuat kagum oleh karya terbarunya, Kotonoha no Niwa, yang tayang 31 Mei 2013 lalu.




Kotonoha no Niwa dikisahkan melalui sudut pandang Takao Akizuki. Ia adalah seorang siswa SMA berumur 15 tahun yang mempunyai impian untuk menjadi seorang perajin sepatu. Suatu hari saat hujan di bulan Juni, Takao pergi ke sebuah taman. Di sana ia bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Yukari Yukino. Dalam hujan itu, mereka saling diam. Takao sibuk menggambar desain sepatu di bukunya sedangkan Yukino hanya meminum bir dan memakan coklat.

Mereka semakin sering bertemu satu sama lain di taman itu. Namun, mereka hanya dapat bertemu pada saat hari hujan. Semakin sering bertemu, hubungan mereka berdua secara perlahan menjadi semakin dekat.

Seperti karya-karya sebelumnya, Makoto Shinkai selalu membuat cerita yang mengandung perasaan yang mendalam. Di sini Takao memiliki ambisi yang sangat kuat untuk menjadi perajin sepatu. Ia sering membolos sekolah setiap jam pertama di hari hujan hanya untuk menggambar desain sepatu di taman itu. Dan jauh dalam perasaan Takao, yang membuatnya datang ke taman itu adalah kehadiran Yukino. Ketika musim hujan akan berakhir, Yukino berharap agar hujan terus turun agar ia dapat bertemu dengan Takao di taman itu.

Setiap detik pertemuan mereka di taman itu selalu diiringi oleh jutaan tetes hujan. Hujan itu seakan menggambarkan hubungan antara mereka yang tak dapat digambarkan, meskipun dengan ribuan kata sekalipun.



Selain dari ceritanya, sentuhan emosional Kotonoha no Niwa juga timbul dari grafik dan musiknya.

Karya Makoto Shinkai selalu terkenal dengan grafiknya yang indah dan natural. Pemandangan kota, langit, dan gedung terlihat sangat nyata. Dan yang lebih memukau adalah pemandangan taman tempat Takao dan Yukino bertemu. Daun-daun pohon yang hijau dan air hujan yang jatuh pada danau digambarkan dengan lembut dan dengan pencahayaan yang indah.

Di setiap detik cerita tentang Takao dan Yukino selalu diiringi dengan musik yang indah dan menyentuh, memperkuat perasaan mendalam yang ada pada hati Takao dan Yukino.

Cerita yang sangat mengagumkan dan emosional dipadukan dengan grafik dan musik yang memukau. Cerita tentang Takao dengan ambisinya untuk menjadi perajin sepatu dan Yukino, seorang wanita dengan kedua kakinya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Red Utopia - Hataraku Maou-sama! - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - edited by Kresna